Dari Mustikajaya sampai Cikiwul, Tiga Titik Literasi Baru Hadir di Kota Bekasi

KOTA BEKASI – Jangkauan fasilitas literasi berbasis lingkungan di Kota Bekasi bertambah. Tiga perpustakaan mini yang berlokasi di Mustikajaya, Jatisari, dan Cikiwul resmi dibuka untuk mendekatkan buku serta kegiatan belajar kepada masyarakat. Peresmian dilakukan Bunda Literasi Kota Bekasi Wiwiek Hargono Tri Adhianto pada Senin (14/9/2026), dengan lokasi kegiatan dipusatkan di Perpustakaan Mini RW 16 Mustikajaya. Selain fasilitas tersebut, dua lokasi lain yang turut diresmikan adalah Perpustakaan Mini RW 11 Jatisari dan Taman Bacaan Masyarakat (TBM) Koleci di Kelurahan Cikiwul, Kecamatan Bantargebang. Sebaran ketiga fasilitas itu memperluas pilihan ruang belajar bagi warga di tingkat RW dan kelurahan. Kehadiran perpustakaan di dekat kawasan permukiman juga memungkinkan kegiatan literasi disusun sesuai dengan kebutuhan masyarakat setempat. Bunda Literasi Kota Bekasi Wiwiek Hargono meminta masyarakat memanfaatkan fasilitas tersebut secara optimal. Menurutnya, perpustakaan mini dapat memainkan fungsi sosial dan pendidikan yang lebih luas. “Saya berharap hadirnya perpustakaan mini ini bisa dimanfaatkan sebaik-baiknya oleh masyarakat Kota Bekasi. Bukan hanya untuk membaca, tetapi juga menjadi ruang untuk belajar, berkarya, berbagi, dan bertumbuh bersama,” kata Wiwiek. Program tersebut membawa semangat “Baca Bukunya, Temukan Ilmunya, Kembangkan Potensinya”. Melalui semangat itu, masyarakat didorong untuk tidak berhenti pada aktivitas membaca, tetapi juga mengolah pengetahuan menjadi keterampilan dan karya. Pengembangan perpustakaan mini turut mendapat dukungan Dinas Arsip dan Perpustakaan Daerah (Disarpusda) Kota Bekasi. Wiwiek memberikan apresiasi atas keterlibatan perangkat daerah tersebut dalam memperkuat budaya literasi. Ia menilai kolaborasi diperlukan agar layanan buku dan ruang belajar dapat menjangkau lebih banyak lingkungan. Pemerintah menyediakan dukungan, sedangkan pengelola dan warga berperan menghidupkan kegiatan di dalamnya. Keberadaan fasilitas fisik merupakan langkah awal. Agar manfaatnya terus dirasakan, perpustakaan mini memerlukan pengelolaan, koleksi yang sesuai, serta agenda rutin yang melibatkan masyarakat. Dengan kegiatan seperti membaca bersama, diskusi, kelas belajar, dan pelatihan kreatif, tiga titik literasi tersebut diharapkan berkembang sebagai pusat pembelajaran warga di wilayahnya masing-masing.